11 Mei 2017

TIPE SKALA PENGUKURAN



Skala Likert
        Skala Likert: skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang objek atau fenomena tertentu. Skala Likert memiliki 2 bentuk pernyataan, yaitu: pernyataan positif dan negatif.. Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala Likert responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya disediakan lima pilihan skala dengan format seperti:
·      Sangat tidak setuju
·      Tidak setuju
·      Netral
·      Setuju
·      Sangat setuju
        Selain pilihan dengan lima skala seperti contoh di atas, kadang digunakan juga skala dengan tujuh atau sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan bahwa beberapa karakteristik statistik hasil kuesioner dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip Pernyataan positif diberi skor 5,4,3,2, dan 1; sedangkan bentuk pernyataan negatif diberi skor 1,2,3,4 dan 5. Bentuk jawaban skala Likert terdiri dari sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

 Skala Guttman
       Skala Guttman yaitu skala yang menginginkan jawaban tegas seperti jawaban benar-salah, ya-tidak, pernah – tidak pernah. Untuk jawaban positif seperti setuju, benar, pernah dan semacamnya diberi skor 1; sedangkan untuk jawaban negatif seperti tidak setuju, salah, tidak, tidak pernah, dan semacamnya diberi skor 0.

Semantik Defferensial
         Skala defferensial yaitu skala untuk mengukur sikap dan lainnya, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum. Sebagai contoh skala semantik defferensial mengukur gaya kepemimpinan seorang pimpinan (pimpinan).

Gaya Kepemimpinan

Demokrasi
7   6   5   4   3   2   1
Otoriter
Bertanggung     jawab
7   6   5   4   3   2   1
Tidak ber-tanggung jawab
Memberi Kepercayaan
7   6   5   4   3   2   1
Mendomi-nasi
Menghargai bawahan
7   6   5   4   3   2   1
Tidak menghargai         bawahan
Keputusan     diambil bersama
7   6   5   4   3   2   1
Keputusan diambil  sendiri

 Rating Scale

Dalam rating skale data kuantitatif ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam skala rating scale, responsden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang disediakan.

No. Item
Pernyataan
Interval Jawaban
1.
Keputusan diambil bersama
5   4   3    2    1

Skala Thurstone
       Skala Thurstone merupakan skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap skor memiliki kunci skor dan jika diurut kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Contoh skala model Thurstone:

Skala   1    2    3    4    5     6    7    8    9   10    11
Skala  11    10    9    8    7    6    5    4    3    2     1


BAGAIMANA TEKNIK MEMBUAT JUDUL


Kesulitan pertama mahasiswa akhir adalah saat pengajuan judul dan secara pintas mengadopsi dari hasil skripsi orang lain tanpa memahami latar belakang masalah penelitian. sehingga kendala nampak saat pada proses penentuan analisa datanya.

SEORANG peneliti merasakan adanya (1)"sesuatu yang tidak beres", (dalam arti tidak atau belum sesuai dengan kondisi yang seharusnya), artinya seorang peneliti harus memiliki keingintahuan yang tinggi dan keinginan untuk memperbaiki keadaan.

Contoh : "Selama saya kuliah, belum pernah saya temui seorang mahasiswa pun berjalan sambil membaca buku di kampus karena saking gemarnya membaca, misalnya.ini juga menguatkan survei UNESCO bahwa pringkat membaca Indonesia, berada di bawah negara-negara tetangga kita seperti Malaysia bahkan Vietnam. Mungkin juga beralasan bahwa lesunya membaca ini adalah pemicu sepinya diskusi-diskusi kecil atau publik di kampus. Padahal, menurut mahasiswa yang sudah alumni, kegiatan diskusi adalah kegiatan yang biasa ditemui di setiap sudut kampus ini dulu. (kutipan dari radarbanten.com)

Mengacu pada masalah yang dapat dilihat dari suatu kasus bisa diambil rumusan masalah yang diungkapkan dalam kalimat tanya :
  1. Apakah benar bahwa mahasiswa kita kurang minat membaca?
  2. apakah benar lesunya minat membaca berakibat lesunya forum diskusi di kampus?
  3. apakah benar dengan lesunya membaca dan diskusi ini mengakibatkan kurang ada gairah dalam penelitian dan menulis dikalangan mahasiswa?
Dari pertanyaan diatas peneliti harus bisa menentukan apa variabel penelitian atau yang menjadi objek penelitian yang merupakan inti dari masalah penelitiannya. dengan kata lain untuk menyusun masalah penelitian peneliti harus mengetahui terlebih dahulu apa variabelnya. ketiga pertanyaan diatas diajabarkan berdasarkan tiga gejala yang penliti baca di media berdasarkan pengamatan sendiri. 

Hal lain yang bisa diamati dari " Hal yang tidak beres", dapat dilihat dari hal yang positif dari kegiatan mahasiswa dengan adanya kegiatan mentoring yang diselenggarakan oleh "lembaga dakwah kampus' terutama dikampus umum yang marak dibandingkan dengan kampus berbasis agama. sehingga anda rumuskan juga dalam kalimat pertanyaan :
  1. Kegiatan positif apa saja yang dilakukan mahasiswa melalui kelompok mentoring tersebut?
  2. Motif-motif apakah yang mendorong para mahasiswa untuk mengadakan kelompok mentoring tersebut?
  3. Apakah ada kaintan yang erat antara mentoring dengan kegiatan salah satu partai sebagai sel kaderisasi?
Untuk menjawab semua pertanyaan dari asumsi dasar yang diajukan peneliti dapat mengajukan pertanyaan "Manakah kira-kira yang paling baik, mulai dengan mendaftar sebanyak mungkin pertanyaan atau langsung menentukan sejumlah pertanyaan?"

Asumsinya sebagian orang dengan cepat memperoleh pertanyaan penelitian karena sensitif terhadap lingkungan dan dapat merasakan adanya permasalahan disekelilingnya sehingga ingin memecahkan permasalahan tersebut melalui kegiatan penelitian. sebaliknya sebagian orang sukar menemukan permaslahan yang akan diteliti sehingga apabla seorang mahasiswa, setelah lama menyelesiakan teori, tidak habis-habis berada dalam "masa berpikir mencari judul "untuk skripsinya.

Intinya modal utama mahasiswa dalam menentukan judul harus menguasai permasalahan lalu lanjut pada pemahaman terhadap literatur yang relevan dengan judul penelitiannya. dalam keadaan mantap peneliti harus juga meninjau kembali rumusan pertanyaan yang diajukan dan sambungkan dengan bahan pustaka, sebaliknya jika dalam mengkaji bahan pustaka untuk teori tidak memperoleh dukungan maka lebih baik mengurungkan niatnya untuk walaupun judul dirasakan sudah sesuai dengan keinginan peneliti.

Secara garis besar, proses penelitian pada umunya melalui langkah-angkah sebagai berikut ;
  1. Mencari permasalahan yang pantas untuk diteliti.
  2. menelaah buku-buku untuk mencari dukungan teori dengan cara membaca buku teori maupun laporan hasil penelitian dari hasil telaah ini peneliti menentukan langkah untuk terus atau harus menghentikan penelitiannya.
  3. meninjau kembali rumusan serta memantapkan problematika tersebut dan dilanjutkan dengan merumuskan tujuan dan hipotesis penelitian.
  4. menyusun instrumen pengumpul data.
  5. melaksanakan penelitian
  6. melakukan tabulasi pengolahan data
  7. mengambil kesimpulan
  8. menyusun laporan penelitian

Acuan menentukan sebuah judul skripsi
setelah memahami urutan proses penelitian secara umum kembali pada prumusan problematika dan judl penelitian. apabila peneliti sudah merasa bahwa ia telah memiliki problematika penelitian dan hal ini berarti bahwa peneliti dengan jelas sudah menguasai permasalahan penelitiannya, maka ia dapat mencari rumsuan untuk judulnya. rumusan problematika saja memang belum cukup, peneliti harus juga mengetahui hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

  • Berpatokan pada masalah bukan pada judul skripsi yang ada
Walaupun judul selalu tercantum dibagian paling depan dari setiap penelitian, tetapi tidak berarti penelitian berangkat dari judul. bahkan untuk jenis penelitian kualitatif, judul penelitian dapat dibuat setelah penelitian selesai. Kekeliruan sebagian mahasiswa selalu menentukan judul berasal dari judul yang sudah ada, padahal judul bisa diambil dari permasalahan yang ada dalam mata kuliah, fenomena sehari-hari ditempat kerja, dari hasil sharing seminar, pola pikir membuat judul dapat dilihat :

Masalah -------> Identifikasi masalah............> Batasan masalah ...............> Judul

Dari pola diatas maka judul penelitian itu sudah spesifik karena berangkat dari batasan masalah. jadi variabel penelitian yang telah dibatasi itulah yang diangkat menjadi judul penelitian. Masalah dapat dilihat dari asumsi dasar (dasar berpijak masalah yang bisa dijadikan sebuah acuan judul) seperti : 

"Kesulitas mahasiswa STBAJIA untuk menghilangkan logat daerah saat pengucapan bahasa jepang"
"PT KAI seringkali terjadi kecelakaan yang tidak bisa diprediksi"

  • Judul harus netral
Karena pada dasarnya meneliti adalah keinginan mengetahui data atau gejala sebagaimana adaya (bukan sebagaimana seharusnya) maka judul penelitian harus netral, tidak dipengaruhi unsur-unsur subyektif yang belum diketahui kebenarannya. judul penelitian harus netral dan didasarkan pada bentuk-bentuk permasalahan. untuk bentuk permasalahan deskriptsif yang bersifat estimasi (yang menggambarkan keadaan satu variabel/uni variabel)

  • Teks judul sederhana dan spesifik
untuk penelitian harus ada pembatasan maslah dengan memperkecil jumlah variabel, memperkecil jumlah subjek penelitian, mempersempit lingkup wilayah penelitian menggunakan instrumen dengan memilih metode pengumpulan data yang lebih sederhana, menganalisis data dengan teknik yang tepat guna dan menyusun laporannya sesingkat mungkin. 
 Sebuah judul harus berisikan ;1).  teks pengantar (analisa, hubungan dengan..., studi deskriptif..., studi ekssploratif, dll); 2). variabel pokok yang merupakan objek yang akan diteliti,  3). subjek penelitian tempat diperolehnya data untuk variabel yang diteliti, 40. lokasi tempat penelitian dilaksanakan, 5). waktu data penelitian diambil atau waktu penelitian dilaksanakan.Teks judul dapat ditulis dalam skrisi seperti berikut :
  1. Peranan......................terhadap.........................................................................................
  2. pengaruh.....................terhadap........................................................................................
  3. pengaruh.....................dan......................terhadap.............................................................
  4. Hubungan ...................dengan...........................................................................................
  5. hubungan.....................dan.....................dengan................................................................
Judul penelitian selain berbentuk hubungan sebab-akibat bisa juga bersifat komparatif (membandingkan), maka judulnya penelitian dengan teks yang sering digunakan :"Perbandingan...................antara...............................................................................................
"perbandingan..................... terhadap ........................................................................................

karena dalam penelitian kualitatif banyak variabel yang diamati dan masalah yang diteliti belum jelas, maka judul-judul penelitian tidak harus eksplisit serti pada batasan masalah. judul-judl penelitiannya masih bersifat sementara, dapat berubaha dan dapat dirumuskan judlnya setelah penelitian selesai.

  •    Judul bisa juga dari pembimbing anda
Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan "ditarik" masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.Akan tetapi terlalu banyak mempunyai permasalahan lalu berkonsultasi dengan pembimbing, setelah mengetahui adanya kesulitan lalu berubah ingin mengganti judul. dengan proposal yang diajukan dengan berbagai alasan latar belakang masalah diajukan, belum selesai terpikir masalah lain sangat menarik untuk diajukan kembali menjadi sebuah judul. bisa jadi mahasiswa yang sering gunta-ganti judul tidak menguasai permasalahan dengan baik. dipihak lain ada mahassiwa yang sulit menemukan judul, tidak segan-segan meminta pada calon pembimbing atau judul diberikan oleh dosen tapi kesulitan mencerna karena mahasiswa belum terbiasa merangkai kata-kata, nasehat dosen sangat bermanfaat, tapi terkadang judul skripsi pemberian dosen sulit dipahami oleh mahasiswa maknanya sehingga ada kompromi semu padahal tidak paham dengan permasalahan.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah "hafal di luar kepala" sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara "baku". Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

  •  Judul yang sesuai dengan tingkat analisa dan penentuan topik
kadang kala yang harus dilakukan bagaimana cara menentukan sampai seberapa besar cakupan analisa. Hal ini sangat penting karena dengan menentukan tema atau judul yang sesuai dengan tingkatan analisa tepat maka anda akan lebih mudah menentukan rumusan masalah dan pembatasan penelitian. Jadi, sebenarnya untuk menentukan judul dalam berbagai kajian ilmu apapun tidaklah sesulit yang mahasiswa bayangkan.
 Dalam penetuan topik disarikan bahwa topik harus penting (significanne of topic), harus menarik perhatian penelitian (interesting topic), harus didukung oleh data atau dngan kata lain untuk topik harus tersedia datanya (obtainable data) dan topik penelitian harus dapat dilaksanakan dalam arti sebatas kemampuan penelitian (manageble topic)

Berikut merupakan langkah yang harus anda lakukan ketika memilih tema atau judul untuk skripsi bahasa

A.Bagaimana untuk mendapatkan judul yang sesuai dalam ilmu bahasa.
Untuk mendapatkan judul atau tema skripsi ilmu bahasa maka saya sarankan anda harus membaca banyak referensi. Banyak referensi, tidak berarti tidak harus bersumber pada buku-buku atau jurnal yang membahas tematik bahasa. Saya seringkali menemukan judul ilmu bahasa yang kemudian saya angkat menjadi skripsi ketika membaca majalah-majalah seperti National Geography atau bahkan majalah wanita seperti Femina. 

Jadi bisa saja, artikel yang membahas analisa sastra namun juga mempunyai muatan ilmu komunikasi dan feature bahasa, kalau anda cukup teliti untuk menangkap ide ini. Jadi, jangan mengkotakkan diri anda dalam sebuah ilmu yang anda pelajari selama kuliah saja. Banyak membaca Novel dan komik berarti anda memperluas wawasan anda.
Langkah kedua untuk mencari ide judul skripsi adalah sharing dengan teman, atau dosen pembimbing akademis anda. Percakapan dengan teman yang anda lewatkan di kantin ataupun ketika dosen menyampaikan materi kuliah, terus keluar ide dan anda menangkapnya. Jadilah sebuah judul skripsi.Untuk penerimaan judul biasanya ditentukan dari kebaruan dan kesulitan mengenai objek yang diteliti

B. Menentukan Wilayah lingusitik kebahasan yang paling kita pahami.
Perlu diingat bahwa ilmu bahasa adalah sangat luas dan berpatokan pada konsep Speaking, listening, writing dan reading. Jadi untuk mencari kajian apa dan bagaimana ilmu bahasa maka dapat dikembalikan dalam esensi dari ilmu bahasa  itu sendiri. Jadi tema atau judul dalam bahasa dapat di dasarkan pada kajian-kajian wilayah lingua bahasa yang luar biasa luasnya dan juga bahasa ada kaitannya dengan ilmu sastra. Ilmu sastra sendiri bersumber dari kajian yang mengulas secara tematik mengenai sastra,  Baik input, output maupun lingkungan; ke semuanya membentuk sistem yang saling terkait dan saling mempengaruhi.
Berdasarkan bagan diatas maka kita dapat meletakkan topik tersebut di dalam wilayah proses input, output (kebijakan), maupun lingkungan. Berikut merupakan berbagai contoh tema yang dapat diangkat dalam menganalisa bahasa seperti bahasa inggeris

1.Input
Bentuk input dalam ilmu bahasa dibedakan menjadi dua yaitu komunikasi dan tematis Input dalam tuntutan disebabkan adanya kesulitasn dalam hal berkomunikasi dengan demikian timbulnya input berupa upaya meningkatkan kemampuan conversation oleh karena ada fenomena belajar bahasa inggeris sejak SD sampai PT tapi kemampuan percakapan kita sangat sulit, hal ini disebabkan oleh adanya sebuah kondisi psikologis kalau bahasa inggeris itu bahasa asing, dipelajari saat benar-benar dibutuhkan, kurangnya pembiasaan percakapan, kurangnya dukugan sekitar kita untuk selalu menggunakan bahasa itu sebagai bahasa sehari-hari kita

2.Output
Output dalam suatu sistem kebahasan adakalah peningkatan kompetensi kebahasan yang dirasa masih kurang. Jadi secara meluas, tema yang dapat diangkat dalam wilayah output untuk sebuah judul bahasa adalah jalannya pelaksanaan, keefektifan serta implikasi kebahasan  tersebut dalam struktur bahasa.

3.Lingkungan
Untuk menciptakan proses dimana sistem tersebut berjalan maka dibutuhkan adanya lingkungan bahasa. Lingkungan bahasa merupakan suatu penggambaran secara sistematik dari setiap pola penggunaan bahasa yaitu baik struktur maupun fungsi dari yang bisa didaptasi oleh bangsa indonesia artinya bahasa inggeris bisa diterima sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia Lingkungan ini dapat berupa lingkungan internal atapun eksternal. Tema inilah yang paling banyak tidak dicermati mahasiswa sebagai tema dalam penelitian bahasa dari sudut budaya dan tema kesusastraan, padahal bahasa sangat begitu dekat dengan tema omunikasi sastra dan komunikasi, padahal banyak bidang yang bisa dikaji, misalkan analsia tematis novel, film dan sastrayang berasal dari permasalahan bahasa setempat seperti logat bahasa ataupun perbedaan pola budaya dan sastra dalam berbahasa.

Ke semua bagian dalam sistem kebahasan akan seperti yang diuraikan di atas dapat menjadi dasar kegiatan dalam meenentukan judul penelitian bahasa Hal ini akan membantu anda dalam menentukan ruang lingkup dalam menentukan judul bahasa yang tidak hanya terpokus pada grammer, conversation, fonetik tapi kajian tema sastra juga bisa diadopsi dan   dijadikan sebagai dasar judul dalam kajian ilmu bahasa.

C.Menentukan Tingkatan Analisa
Langkah berikutnyan adalah menentukan tingkatan analisa masalah. Untuk langkah ini maka kita dapat membagi berdasarkan tingkatan mana yang paling mempengaruhi dan dipengaruhi dari tema kebahasan dapat dilihat nanti dalam hubungan antar variabel dalam paradigma penelitian.

Dalam perakteknya model judul penelitian cukup bervariasi dan tidak sesuai dengan teori yang diberikan diatas. terdapat judul penelitian yang mencerminkan permasalahan dan ada juga judul penelitian yang mencerminkan saran yang akan diberikan.

Ikuti dan share gratis ke teman Anda yang sedang penelitian di chanel  : Reconiascriptliteracy on telegram


12 Maret 2017

KESULITAN DAN SEMANGAT MENELITI


Penelitian tidak mudah terutama dalam hal mendapatkan data dengan metode yang standar pengumpulan data, terutama dalam penelitian kuantitatif seperti dalam hal penyebaran angket, proses wawancara, dokumentasi literatur, dan observasi.

KESULITAN itu tidak menjadi penghalang bagi peneliti untuk menghentikan penelitiannya. Justru itulah tantangan dilapangan dengan berbagai penolakan, bahkan dialami oleh institusi yang seharusnya membantu dan mempermudah seorang peneliti menyampaikan dan menggali datanya. Banyak kampus yang seharusnya membantu para koleganya sesama peneliti dan seprofesi sebagai dosen, malahan mempersulit dengan dalih : prosedur penelitian, ada hal yang menyangkut rahasia, kredibilitas dosen atau institusi terganggu, terlalu sibuk ataupun ketakutan lain yang tidak dipahami peneliti.

Kesepahaman antara pihak peneliti dengan institusi ketika ajuan angket penelitian terjadi proses penolakan dengan prosedur yang terkadang menyulitkan, itu terjadi dikampus yang notebene pusat tridarma penelitian dan ada juga yang wellcome dengan peneliti mungkin memahami kesulitan dilapangan. Butuh perjuangan dan kemampuan peneliti untuk secara persuatif untuk menyampaikan proses interview dan penyebaran angket.

Kesulitan penelitian kuantitaif.

Kesulitan mendasar pengumpulan data dari lapangan ketika penelitian dengan loaksi umum dan tidak begitu dikenal, bisa beberapa bulan dari penyebaran sampai pengolahan data sehingga bisa menghasilkan penelitian dan didiseminasikan di forum penelitian atau yang disertasi diujian sidangkan.ketika penyebaran angket mengalami kesulitan hal itu akan memperlambat selesainya penelitian kita.

Ada beberapa cara yang memudahkan dalam penyebaran dan pengumpulan data mentah penelitian kelapangan antaralain :

1. Menanamkan kepercayaan dengan identitas istitusi/asal peneliti dengan observasi awal.
Kepercayaan itu mahal, seperti takut penipuan dengan tampilan peneliti yang kurang meyakinkan, identitas institusi asal peneliti, takut membuka aib kampus atau responden. observasiawal harus menanamkan bahwa kita legal dengan surat pengantar penelitian, identitas peneliti, referensi yang bisa dihubungi bisa disampaikan dan memberikan jaminan dengan etika peneliti untuk tidak membuka hal-hal yang menggangu institusi atau pribadi responden, dll.

2. Lokasi penelitian yang lebih dekat dengan posisi peneliti.
Terkadang sampel untuk diteliti ditempat yang mudah seperti tempat kerja sendiri, tempat mengajar atau ada orang dalam sebagai kolega atau teman. jauh lebih mudah dan terpercaya untuk dijadikan tempat penelitian.

3. Bisa juga melalui kekuasaan.
Kekuasaan itu berkonotasi negatif, seolah memanfaatkan. Tapi,  bisa positif untuk memudahkan penelitian, seorang teman meneliti perilaku kepala sekolah se kabupaten x dengan jumlah populasi 400 responden dengan sample hanya 150 responden, secara door to door bisa berbulan-bulan, tapi dengan mendapat referensi kolega seorang kepala dinas pendidikan setempat, dalam moment rapat dinas bisa membantu dalam pengisian angket hanya dua hari, dengan kontribusi menyiapkan makan siang untuk 250 orang kepala sekolah yang sedang rapat.

3. Korespondensi dan kontributor kalau penelitian jarak jauh.
Untuk interview kalau respondennya jarak jauh bisa juga melalui kontributor atau koresponden anda diluar. Memang tidak mudah mencari orang asing dinegeri orang membutuhkan hubungan cukup lama sebelum berlangsungnya penelitian anda, tapi setidaknya dengan punya teman korespondensi bisa meringankan biaya perjalanan anda keluar dan bisa juga mencarikan referensi buku penelitian yang tidak bisa didapatkan di Indonesia.

4. Berbicara secara persuatif langsung dengan pimpinan institusi.
Observasi awal kalau bisa langsung dengan pimpinan jangan dengan staf yang terkadang tak memahami kita, sehingga terkadangangket kita tidak disampaikan dan kita dianggap pengganggu.

5. Semua adalah perjuangan dan konsekwensi jadi peneliti.
Tentu saja semua resiko kita jadi peneliti dan butuh kesabaran dan strategi pendekatan, agar penelitian kita berlangsung baik dan lancar.

Dari kesulitan itulah tetap bersemangat dengan tetap menjadga etika peneliti, menghindari rekayasa data, menetapkan nilai kebenaran sebuah penelitian..

IKUTI dan share di chanel on telegram ; RECONIASCRIPT  LITERACY

19 Oktober 2016

Tahapan Analisis Data Kualitatif



     
Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif untuk proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa penelitian kualitatif  terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan (Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya  :
 
1.   Mengorganisasikan Data.
Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar penulis mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan.

2.   Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan pola jawaban.
Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data, perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam mekukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti kemudian kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat.

Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti. Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat menangkap penagalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek.

3.   Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data 
Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kemabali berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai hubungan antara konsep-konsep dan factor-faktor yang ada.

4.   Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data.     Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari suatau alternative penjelasan lain tetnag kesimpulan yang telah didapat. Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternative penjelasan yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terfikir sebelumnya. Pada tahap ini akan dijelaskan dengan alternative lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan, kesimpulan dan saran.

5.   Menulis Hasil Penelitian.
Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakai adalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek dan significant other. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek dan significant other, dibaca berulang kali sehinggga penulis mengerti benar permasalahanya, kemudian dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencangkup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian.

KEABSAHAN DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF



Dalam menggunakan penelitian pendekatan kualitataif. Yin (2003) mengajukan empat criteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah Sebagai berikut :

1. Keabsahan Konstruk (Construct validity)
Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benar- benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau Sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut Patton (dalam Sulistiany 1999) ada 4 macam triangulasi Sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu :

a. Triangulasi data
Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda.

b. Triangulasi Pengamat
Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus bertindak Sebagai pengamat (expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data.

c. Triangulasi Teori
Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut.

d. Triangulasi metode
Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat wawancra dilakukan.

2. Keabsahan Internal (Internal validity)
Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda.

3. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity)
Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama.

4.  Keajegan (Reabilitas)
Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi.
             
Dalam penelitian, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menujukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data.

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *